Sabtu, 31 Desember 2011

TEORI PENDIDIKAN REKONSTRUKSIONISME


ABSTRAK
Tulisan ini mengkaji tentang filsafat pendidikan aliran rekonstruksionisme, dimana aliran ini adalah suatu aliran yang berusaha merombak tata susunan lama dan membangun tata susunan hidup kebudayaan yang bercorak modern. Aliran rekonstruksionisme pada prinsipnya sepaham dengan aliran perennialisme, yaitu hendak menyatakan krisis kebudayaan modern.
Walaupun demikian, prinsip yang dimiliki aliran rekonstruksionisme tidaklah sama dengan prinsip yang dipegang perennialisme. Keduanya mempunyai visi dan cara yang berbeda dalam pemecahan yang akan ditempuh untuk mengembalikan kebudayaan yang serasi dalam kehidupan. Aliran perennialisme memilih cara sendiri, yakni dengan kembali ke alam kebudayaan lama atau dikenal dengan “regressive road to culture” yang mereka anggap paling ideal. Sementara itu aliran rekonstruksionisme menempuh dengan jalan berupaya membina suatu konsensus yang paling luas dan mengenai tujuan pokok dan tertinggi dalam kehidupan umat manusia.

BAB I
PENDAHULUAN
Pada mulanya filsafat adalah induk dari segala cabang ilmu pengetahuan yang ada, namun karena banyak permasalahan yang tidak dapat dijawab lagi oleh filsafat sendiri, maka lahirlah cabang ilmu yang lain untuk menjawab segala macam permasalahan yang timbul. Diantara permasalahan-permasalahan yang timbul dan tidak dapat dijawab lagi oleh filsafat sendiri, yaitu permasalahan yang timbul/terjadi di lingkungan pendidikan. Oleh karena itu lahirlah filsafat pendidikan yang merupakan cabang filsafat sebagai pembantu dalam memecahkan masalah-masalah yang tidak dapat terpecahkan sendiri oleh filsafat, khususnya dalam lapangan pendidikan.
Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa yang melatarbelakangi munculnya filsafat pendidikan adalah banyaknya perubahan-perubahan dan permasalahan-permasalahan yang timbul di lapangan pendidikan yang tidak mampu dijawab sendiri oleh filsafat. Selain itu, yang melatarbelakangi munculnya filsafat pendidikan adalah banyaknya ide-ide baru dalam dunia pendidikan. Adapun datangnya ide-ide tersebut diantaranya berasal dari tokoh-tokoh filsafat Yunani.
Filsafat sebagai hasil pemikiran para ahli filsafat telah melahirkan berbagai macam pandangan/ide yang salah satunya ialah lahirnya pandangan tentang filsafat pendidikan. Begitu pula halnya dengan filsafat pendidikan bahwa dalam sejarahnya telah melahirkan berbagai pandangan atau aliran.
Ada banyak  aliran filsafat pendidikan, dan salah satunya adalah aliran rekonstruksionisme. Aliran rekonstruksionisme pada prinsipnya sepaham dengan aliran perennialisme, yaitu hendak menyatakan krisis kebudayaan modern.
Walaupun demikian, prinsip yang dimiliki aliran rekonstruksionisme tidaklah sama dengan prinsip yang dipegang perennialisme. Keduanya mempunyai visi dan cara yang berbeda dalam pemecahan yang akan ditempuh untuk mengembalikan kebudayaan yang serasi dalam kehidupan. Aliran perennialisme memilih cara sendiri, yakni dengan kembali ke alam kebudayaan lama atau dikenal dengan “regressive road to culture” yang mereka anggap paling ideal. Sementara itu aliran rekonstruksionisme menempuh dengan jalan berupaya membina suatu konsensus yang paling luas dan mengenai tujuan pokok dan tertinggi dalam kehidupan umat manusia.
Untuk mengetahui lebih jauh mengenai aliran ini, maka pada makalah ini dirumuskan beberapa permasalahan, diantaranya: Bagaimana sejarah aliran rekonstruksionisme, bagaimana konsep pendidikan menurut aliran tersebut dan bagaimana implikasinya terhadap dunia pendidikan yang diantaranya (kurikulum, guru, dan siswa).
BAB II
KAJIAN PUSTAKA

A.    Pengertian filsafat pendidikan rekonstruksionisme
Kata rekonstruksionisme dalam bahasa ingris reconstruct yang berarti menyusun kembali.dalam konteks filsafat pendidikan aliran rekontruksionisme adalah suatu aliran yang berusaha merombak tata susunan lama dan membangun tata susunan hidup kebudayaan yang bercorak modern. Yaitu melakukan perombakan dan menyusun kembali pola-pola lama menjadi pola-pola baru yang lebih meodern.
Aliran rekonstruksionisme pada prinsipnya sepaham dengan aliran perennialisme, yaitu hendak menyatakan krisis kebudayaan modern. Walaupun demikian, prinsip yang dimiliki aliran rekonstruksionisme tidaklah sama dengan prinsip yang dipegang perennialisme. Keduanya mempunyai visi dan cara yang berbeda dalam pemecahan yang akan ditempuh untuk mengembalikan kebudayaan yang serasi dalam kehidupan. Aliran perennialisme memilih cara sendiri, yakni dengan kembali ke alam kebudayaan lama atau dikenal dengan “regressive road to culture” yang mereka anggap paling ideal. Sementara itu aliran rekonstruksionisme menempuh dengan jalan berupaya membina suatu konsensus yang paling luas dan mengenai tujuan pokok dan tertinggi dalam kehidupan umat manusia.
Untuk mencapai tujuan itu, rekonstruksionisme berusaha mencari kesepakatan semua orang mengenai tujuan utama yang dapat mengatur tata kehidupan manusia dalam suatu tatanan baru pada seluruh lingkungannya. Maka melalui lembaga dan proses pendidikan, rekonsruksionisme ingin merombak tata susunan lama dan membangun tata susunan hidup kebudayaan yang sama sekali baru.
Aliran rekonstruksionisme berkeyakinan bahwa tugas penyelamatan dunia merupakan tugas semua umat manusia atau bangsa. Karenanya pembinaan kembali daya intelektual dan spiritual yang sehat akan membina kembali manusia melalui pendidikan yang tepat atas nilai dan norma yang benar pula demi generasi sekarang dan yang akan datang, sehingga terbentuk dunia baru dalam pengawasan umat manusia.
Kemudian aliran ini memiliki potensi bahwa masa depan suatu bangsa merupakan suatu dunia yang diatur, diperintah oleh rakyat secara demokratis dan bukan dunia yang dikuasai oleh golongan tertentu. Cita-cita demokrasi yang sungguh bukan hanya sekedar teori tetapi harus menjadi kenyataan, sehingga dapat diwujudkan suatu dunia dengan potensi-potensi teknologi, mampu meningkatkan kualitas kesehatan, kesejahteraan dan kemakmuran serta keamanan masyarakat tanpa membedakan warna kulit, keturunan, nasionalisme dan agama (kepercayaan).

B.     Teori pendidikan rekonstruksionisme
Teori pendidikan rekonstruksionisme yang dikemukakan oleh brameld terdiri dari Enam tesis,yaitu;
1.    Pendidikan harus dilaksanakan disini dan sekarang dalam rangka menciptakan tata sosial baru yang akan mengisi nilai- nilai dasar budaya kita, dan selaras dengan yang mendasari kekuatan–kekuatan ekonomi, dan sosial masyarakat modern. sekarang peradaban menghadapi kemungkinan penghancuran diri. Pendidikan harus meseponsori perubahan yang benar dalam nurani manusia.oleh karena itu, kekuatan tehnologi yang sangat kuat harus dimamfaatkan untuk membangun ummat manusia ,bukan untuk menghancurkannya. Masyarakat harus diubah bukan melalui tidakan politik, melainkan dengan cara yang sangat mendasar, yaitu melalui pendidikan bagi warganya, menuju suatu pandangan baru tentang hidup dan kehidupan mereka bersama.
2.    Masyarakat baru harus berada dalam kehidupan demokrasi sejati, dimana sumber dan lembaga utama dalam masyarakat dikontrol oleh warganya sendiri.semua yang mempengaruhi harapan dan hajat masyarakat seperti, sandang, pangan, papan, kesehatan, industri dan sebagainya, semuanya akan menjadi tanggung jawab rakyat, melalui wakil-wakil yang dipilih. Masyarakat ideal adalah masyarakat yang demokrasi. struktur, tujuan, dan kebijakan-kebijakan yang berkaitan dengan tata aturan baru harus diakui merupakan bagian dari pendapat masyarakat.
3.      Anak, sekolah, dan pendidikan itu sendiri dikondisikan oleh kekuatan budaya dan sosial. Menurut rekonstruksionisme, hidup beradap adalah hidup berkelompok, sehingga kelompok akan memainkan peran yang penting disekolah. Pendidikan merupakan realisasi dari sosial (social self realization). Melalui pendidikan indifidu tidak hanya mengembangkan aspek-aspek sifat sosialnya melaikan juga belajar bagaimana keterlibatannya dalam perencanaan sosial. Sehingga dari sini kita bisa lihat bahwa rekontruksi tidak mengabaikan masyarakat yang sangat berperan dalam membentuk individu.
4.      Guru harus meyakini terhadap validitas dan urgensi dirinya dengan cara bijaksana yaitu dengan memperhatikan prosedur yang demokratis.guru harus mengadakan pengujian secara terbuka terhadap fakta- fakta, walaupun bertentangan dengan pandangannya. Guru mendatangkan beberapa pemecahan alternative dengan jelas, dan ia memperkenankan siswa-siswanya untuk memprtahankan pandangan-pandangan mereka sendiri.
5.   Cara dan tujuan pendidikan harus diubah kembali seluruhnya dengan tujuan untuk menemukan kebutuhan –kebutuhan yang berkaitan dengan krisis budaya dewasa ini, dan untuk menyesuaikan kebutuhan dengan sains sosial. Yang penting dari sains sosial adalah mendorong kita untuk menemukan nilai- nilai, dimana manusia peercaya atau tidak bahwa nilai- nilai itu bersifat universal.
6.      Kita harus meninjau kembali penyusunan kurikulum, isis pelajaran, metode yang dipakai,struktur administrasi, dan cara bagaimana guru dilatih.semua itu harus dibangun kembali bersesuaian dengan teori kebutuhan tentang sifat dasar manusia secara rasional dan ilmiah. Kita harus menyusun kurikulum dimana pokok- pokok dan bagiannya dihubungkan secara integral, tidak disajikan sebagai suatu sekuensi komponen pengetahuan.
C.    Pandangan-pandangan tentang rekontruksionisme
1.      Pandangan Ontology
Dengan antologi dapat mengetahui tentang bagaimana hakekat dari segala sesuatu, Aliran rekonsrtuksionisme memandang bahwa realita itu bersifat universal, yang mana realita itu ada dimana dan sama disetiap tempat. Menurut Noor Syam.Untuk mengerti suatu realita beranjak dari sesuatu yang kongkrit dan menuju kearah yang khusus menampakkan diri dalam perwujudan sebagai mana yang kita lihat dihadapan kita dan ditangkap oleh panca indra manusia seperti hewan,dan tumbuhan atau bneda lain disekeliling kita ,dan realita yang kita ketahui dan kita hadapi tidak terlepas darisuatu system, selain subtansi yang dipunyai dari tiap- tiap benda tersebut, dan dapat dipilih melalui akal pikiran.
2.      Pandangan Epistimologis
Kajian epistimologis aliran ini berpijak pada pola pemikiran bahwa untuk memahami realita alam nyata memerlukan suatu azaz tahu, dalam arti bahwa tidak mungkin memahami reaalita ini tampa melalui proses pengalaman dan hubungan dengan realita terlebuh dahulu melalui penemuan suatu pintu gerbang ilmu pengetahuan. Karenanya baik indra maupun rasio sama-sama berfungsi membentuk pengetahuan, dan akal dibawa oleh panca indra menjadi pengetahuan dalam yang sesungguhnya.
3.      Pandangan Ontologis
Barnadib mengungkapkan bahwa aliran rekonstruksionisme memandang masalah nilai berdasarkan azas- azas supera natural yakni menerima nilai natural yang universal, yang abadi berdasarkan prinsip nilai teologis. Hakikat manusia adalah emanasi (pancaran ) yang potensial yang berasal dari dan dipimpin oleh tuhan dan atas dasar inilah tinjauan tentang kebenaran dan keburukan dapat diketahuinya. Kemudian manusia sebagai subyek telah mempunyai potensi- potensi kebaikan dan keburukan sesuai dengan kodratnya.
D.    Macam-macam Pendekatan Rekontruksionisme
Pendektan ini juga disebut Rekontruksi Sosial karena memfokuskan kurikulum pada masalah-masalah penting yang dihadapi dalam masyarakat, seperti polusi, ledakan penduduk, dan lain-lain. Dalam gerakan rekontruksionisme terdapat dua kelompok utama yang sangat berbeda pandangan tentang kurikulum, yakni :
1. Rekontruksionisme Koservatif, Aliran ini menginginkan agar pendidikan ditujukan kepada peningkatan mutu kehidupan individu maupun masyarakat dengan mencari penyelesaian masalah-masalah yang paling mendesak yang dihadapi masyarakat. Masalah-masalah dapat bersifat local dan dapat dibicarakan di SD, ada pula yang bersifat daerah, nasional, regional, dan internasional bagi pelajar SD dan Perguruan Tinggi. Dalam PBM-nya metode problem solving memegang peranan utama dengan menggunakan bahan dari berbagai disiplin ilmu. Peranan guru ialah sebagai orang yang menganjurkan perubahan (agent of change) mendorong siswa menjadi partisipan aktif dalam proses perbaikan masyarakat. Pendekatan kurikulum ini konsisten dengan falsafah pragmatisme.
2.  Rekontruksionisme Radikal, pendektan ini berpendapat bahwa bnyak Negara mengadakan pembangunan dengan merugikan rakyat kecil yang miskin yang merupakan mayoritas masyarakat. Elite yang berkuasa mengadakan tekanan terhadap masa yang tak berdaya melalui system pendidikan yang diatur demi tujuan itu. Golongan radikal ini menganjurkan agar pendidikan formal maupun pendidikan non formal mengabdikan diri demi tercapinya orde social baru berdasarkan pembagian kekuasaan dan kekayaan yang lebih adil dan merata. Mereka berpendapat bahwa kurikulum yang sekedar mencari pemecahan masalah social tidak memadai masa social justru merupakan indicator adanya masalah lain yang lebih mendalam mengenai struktur social baru. Mereka berpendapat bahwa sekolah yang dikembangkan Negara bersifat opresif dan tidak humanistic serta digunakan sebagai alat golongan elit untuk mempertahankan status quo.
Untuk pendirian saling bertentangan ini, baik yang konservatif maupun yang radikal mempunyai unsur kesamaan. Masing-masing berpendirian bahwa misi sekolah, ialah untuk mengubah dan memperbaiki masyarakat. Pemberdayaan terletak pada definisi atau tafsiran tentang “perbaikan” dan cara pendektan terhadap masalah itu. Golongan konservatif bekerja dalam rangka struktur yang ada untuk memperbaiki kualitas hidup.Mereka berasumsi bahwa masalah-masalah social adalah hasil ciptaan manusia dan karena itu dapat diatasi oleh manusia. Sebaliknya golongan radikal ingin merombak tata social yang ada dan menciptakan tata social yang baru sama sekali untuk memperbaiki system lebih efektif

Fokus dalam aliran pendidikan Rekonstruksionisme adalah berikut ini.
1.  Promosi pemakaian problem solving tetapi tidak harus dirangkaikan dengan   penyelesaian problema sosial yang signifikan.
2.    Mengkritik pola life-adjustment (perbaikan tambal-sulam) para Progresivist
3. Pendidikan perlu berfikir tentang tujuan-tujuan jangka pendek dan jangka panjang. Untuk itu pendekatan utopia pun menjadi penting guna menstimuli pemikiran tentang dunia masa depan yang perlu diciptakan.
4.   Pesimis terhadap pendekatan akademis, tetapi lebih fokus pada penciptaan agen perubahan melalui partisipasi langsung dalam unsur-unsur kehidupan.
5.   Pendidikan berdasar fakta bahwa belajar terbaik bagi manusia adalah terjadi dalam aktivitas hidup yang nyata bersama sesamanya.
6.    Learn by doing! (Belajar sambil bertindak).

BAB III
PEMBAHASAN
A. Sejarah Aliran Rekonstruksionisme
Filsafat sebagai hasil pemikiran para ahli telah melahirkan berbagai macam pandangan/ide yang salah satunya ialah lahirnya pandangan tentang filsafat pendidikan. Begitu pula halnya dengan filsafat pendidikan bahwa dalam sejarahnya telah melahirkan berbagai pandangan atau aliran. Salah satunya adalah aliran rekonstruksionisme.
Rekonstruksionisme merupakan kelanjutan dari gerakan progresivisme. Gerakan ini lahir didasarkan atas suatu anggapan bahwa kaum progresif hanya memikirkan dan melibatkan diri dengan masalah-masalah masyarakat yang ada sekarang. Selain itu mazhab ini juga berpandangan bahwa pendidikan hendaknya memelopori melakukan pembaharuan kembali atau merekonstruksi kembali masyarakat agar menjadi lebih baik.
Karena itu pendidikan harus mengembangkan ideology kemasyarakatan yang demokratis. Alasan mengapa rekonstruksionisme merupakan kelanjutan dari gerakan prograsif hanya memikirkan dan melibatkan diri dengan masalah-masalah masyarakat yang ada pada saat sekarang ini.
Dalam aliran rekonstruksionisme berusaha menciptakan kurikulum baru dengan memperbaharui kurikulum lama. Prograsive pendidikan didasarkan pada keyakinan bahwa pendidikan harus terpusat pada anaknya bukan memfokuskan pada guru atau bidang studi. Ini berkelanjutan pada pendidikan rekonstruksinisme yaitu guru harus menyadarkan si pendidik terhadap masalah-masalah yang dihadapi manusia untuk diselesaikan, sehingga anak didik memiliki kemampuan memecahkan masalah tersebut.
Pada rekonstruktivisme, peradaban manusia masa depan sangat ditekankan. Di samping menekankan tentang perbedaan individual seperti pada progresivisme, rekonstruktivisme lebih jauh menekankan tentang pemecahan masalah, berfikir kritis dan sejenisnya. Aliran ini akan mempertanyakan untuk apa berfikir kritis, memecahkan masalah, dan melakukan sesuatu? Penganut aliran ini menekankan pada hasil belajar dari pada proses.
Tokoh-tokoh Rekonstruksionisme. Rekonstruksionisme dipelopori oleh: George Count dan Harold Rugg pada tahun 1930, ingin membangun masyarakat baru, masyarakat yang pantas dan adil. Beberapa tokoh dalam aliran ini:
Caroline Pratt, George Count, Harold Rugg

B. Konsep pendidikan menurut teori Rekonsruksionisme
Aharianto menjelaskan pokok-pokok konsep rekonstruksionisme sebagai berikut:
1.      Pendidikan harus menciptakan tatanan social yang baru sesuai dengan nilai-nilai dan kondisi social yang baru.
2.      Masyarakat baru
3.      Anak, sekolah, dan endidikan dipengaruhi oleh kekuatan social budaya.
4.      Guru meyakinkan murid tentang kebenaran dan memecahkan masalah melalui rekonstruksi social secara demokratis.
5.      Memperbaharui tujuan dan cara-cara yang dipakai pendidikan
Menurut Brameld (kneller,1971) konsep pendidikan rekonstruksionisme ada 5 yaitu:
1.      Pendidikan harus dilaksanakan disini dan sekarang dalam rangka menciptakan tata sosial baru yang akan mengisi nilai-nilai dasar budaya kita, dan selaras dengan yang mendasari kekuatan-kekuatan ekonomi, dan sosial masyarakat modern.
2.      Masyarakat baru harus berada dalam kehidupan demokrasi sejati dimana sumber dan lembaga utama dalam masyarakat dikontrol oleh warganya sendiri.
3.      Anak, sekolah, dan pendidikan itu sendiri dikondisikan oleh kekuatan budaya dan sosial.
4.      Guru harus meyakini terhadap validitas dan urgensi dirinya dengan cara bijaksana dengan cara memperhatikan prosedur yang demokratis.
5.      Cara dan tujuan pendidikan harus dirubah kembali seluruhnya dengan tujuan untuk menemukan kebutuhan-kebutuhan yang berkaitan dengan krisis budaya dewasa ini, dan untuk menyesuaikan kebutuhan dengan sains sosial yang mendorong kita untuk menemukan nilai-nilai dimana manusia percaya atau tidak bahwa nilai-nilai itu bersifat universal.
6.      Meninjau kembali penyusunan kurikulum, isi pelajaran, metode yang dipakai, struktur administrasi, dan cara bagaimana guru dilatih.

C. Implikasi Aliran Rekonstruksionisme terhadap dunia Pendidikan
Implikasi Aliran Rekonstruksionisme terhadap kurikulum
Mengenai kurikulum, rekonstruksianisme mengorganisir kurikulum yang oleh Brameld disebut “the wheel” (roda) kurikulum, di mana inti (core) tujuan pendidikan versi rekonstruksianisme menjadi inti dari kurikulum “roda” tersebut dan menjadi tema sentral pendidikan. Kurikulum ini bersifat sentripetal sekaligus sentrifugal, sentripetal karena akan membawa masyarakat atau komunitas bersama kepada studi yang bersifat umum.
Sentrifugal karena akan meningkatkan proyeksi pendidikan di sekolah-sekolah formal ke dalam komunitas yang lebih luas. Hal tersebut secara tidak langsung akan menciptakan transformasi kultural di dalam hubungan yang dinamis antara sekolah dan masyarakat .
Implikasi pemikiran filosofis rekonstruksianisme dalam kurikulum diarahkan kepada penumbuhan kesadaran kritis peserta didik dengan model keaksaraan kritis pada materi yang diajarkan. Selain itu kurikulum ditekankan pada upaya membangun kesadaran polyculture dengan mengapresiasi keragaman budaya, adat istiadat suatu suku tertentu untuk menanamkan nilai-nilai pluralisme kultural.
Demikian pula proyeksi hubungan kemanusiaan dan aspek politik harus ditekankan baik secara eksplisit maupun implisit dalam upaya menumbuhkan kesadaran politik para peserta didik sehingga “nalar kritis” terhadap berbagai macam ketimpangan sosial dan politik yang diakibatkan oleh kesewenang-wenangan status quo, dapat menjadi modal dasar untuk melahirkan agen-agen perubahan sosial dimasa selanjutnya.
Persoalan perubahan ekonomi dan kehidupan nyata juga menjadi titik tekan utama aliran rekonstruksianisme, dalam rangka melacak peranan perubahan ekonomi, kebijakan ekonomi status quo yang menimbulkan akibat-akibat baik positif maupun negatif pada kehidupan bermasyarakat suatu negara.
Pada puncaknya, kurikulum diatur sedemikian rupa untuk merespon perlunya sebuah tatanan sosial yang mendunia, di mana para peserta didik tidak memiliki pemahaman yang fragmentaris, agar persoalan-persoalan primordial seperti keyakinan, ras, warna kulit, suku dan bangsa tidak menjadi alasan terjadinya krisis kemanusiaan, seperti permusuhan, kebencian dan perang.
Rekonstruksianisme mengajukan kurikulum semesta yang menekankan pada kebenaran, persaudaraan dan keadilan. Mereka menolak kurikulum parokial yang sempit dan hanya membawa kepentingan ideal komunitas lokal tertentu . Contohnya, pengajaran sejarah dunia semestinya juga diarahkan pada kerja-kerja kontemporer lembaga-lembaga internasional seperti PBB, ASEAN, OKI dan lain-lain.
Kurikulum juga diorientasikan pada aksi peserta didik, seperti gerakan mengumpulkan dana amal, terlibat dalam petisi, protes atau demo bersama masyarakat untuk merespons kebijakan negara yang menimbulkan problematika sosial. Peserta didik tidak hanya belajar dari buku, tetapi juga belajar pada fenomena sosial yang ada seperti kemiskinan, perusakan alam, polusi udara, pemanasan global, pornografi dan lain-lain.
Oleh karena itu rekonstruksianisme menjadikan aspek-aspek sosial, budaya dan isu-isu kontemporer menjadi muatan inti kurikulum, agar peserta didik memiliki kepekaan dan empati sosial.
Kurikulum tersebut harus mulai diimplementasikan sejak Taman Kanak-Kanak, yaitu pada usia yang paling peka. Dengan demikian, peserta didik dapat menjadi penggerak utama pencerahan problem-problem sosial dan menjadi agitator utama perubahan sosial. Setelah adanya aliran rekonstruksinisme ini tujuan dan isi kurikulum berisi sebagai berikut:
1.      Tujuan dan isi kurikulum
Tujuan program pendidikan setiap tahun berubah. Misalnya dalam pendidikan ekonomi –politik, pada tahun pertama tujuannya membangun kembali dunia ekonomi politik. Maka kegiatan yang dilakukan adalah;
a.       Mengadakan survai secara kritis terhadap masyarakat
b.      Mengadakan study tentang hubungan antara keadaan ekonomi lokal,nasional serta dunia
c. Mengadakan study tentang latar belakang historis dan kecenderungan-kecenderungan perkembangan ekonomi,hubungannya dengan ekonomi lokal
d.      Mengkaji praktek politik dalam hubungannya dengan faktor ekonomi
e.       Memantapkan rencana perubahan praktek politik
f.       Mengevaluasi semua rencana dengan kriteria apakah telah memenuhikepentingan sebagian besar orang.

2.      Metode
Guru berusaha membantu siswa dalam menemukan minat dan kebutuhannya. Sesuai dengan minat masing-masing siswa, baik dalam kegiatan pleno atau kelompok berusaha memecahkan masalah sosial yang dihadapi dengan kerja sama
3.      Evaluasi
Dalam kegiatan evaluasi para siswa juga dilibatakan, keterlibatan mereka terutama dalam memilih, menyusun dan menilai bahan yang akan diujikan. Soal yang akan diujikan dinilai terlebih dahulu baik ketepatan maupun keluasan isinya, juga keampuhan menilai pencapaian tujuan-tujuan pembangunan masyarakat yang sifatnya kualitatif. Evaluasi tidak hanya menilai apa yang dikuasi siswa, tetapi juga menilai pengaruh kegiatan sekolah terhadap masyarakat. Pengaruh tersebut terutama menyangkut perkembangan masyarakat dan peningkatan taraf kehidupan masyarakat.
Implikasi terhadap Pelaksana dan Peserta Pendidikan
1.      Guru (pengajar)
Guru harus membuat para peserta didik menyadari masalah-masalah yang dihadapi umat manusia, membantu mereka merasa mengenali masalah-masalah tersebut sehingga mereka merasa terikat untuk memecahkannya.
Guru harus terampil dalam membantu peserta didik menghadapi kontroversi dan perubahan. Guru harus menumbuhkan berfikir berbeda-beda sebagai suatu cara untuk menciptakan alternatif-alternatif pemecahan masalah yang menjanjikan keberhasilannya.
2.      Implikasi terhadap Siswa
Siswa adalah generasi muda yang sedang tumbuh menjadi manusia pembangun masyarakat masa depan, dan perlu berlatih keras untuk menjadi insinyur-insinyur social yang diperlukan untuk membangun masyarakat masa depan.
Pada intinya aliran ini memandang manusia sebagai makhluk social. Manusia tumbuh dan berkembang dalam keterkaitannya dengan proses social dan sejarah dari pada masyarakat. Pendidikan mempunyai peranan untuk menandakan pembaharuan dan pembangunan masyarakat (Barnadib, 1996:63). Perkembangan ilmu dan teknologi tidak hanya memberikan sumbangan yang sangat berarti bagi masyarakat, namun juga membawa dampak negative. Masyarakat yang hidup damai berangsur-angsur diganti oleh masyarakat yang coraknya tidak menentu dan tidak kemantapan, serta yang lebih penting dari itu lepasnya individu dalam keterkaitannya dalam masyarakat dan adanya ketersaingan. Hal ini menciptaka budaya hegemoni sebagai ideology
George F. Kneller (1984:195) membuat ikhtisar pandangan Michael W Apple tentang ideology tersebut:
1.      Pandangan Bahwa kemajuan itu tergantung dari sains dan industry
2.  Suatu kepercayaan dalam masyarakat agar orang mampu menyumbangkan jasanya dalam masyarakat kompetitif.
3.   Kepercayaan bahwa hidup yang memadai sama dengan menghasilkan dan mengkonsumsikan barang dan jasa bagi masyarakat.
Sehingga menurut Apple ketiganya tercermin dalam kurikulum sekolah. Agar keadaan masyarakat dapat diperbaiki, pendidikan menjadi wahana penting untuk rekonstruksi. Hal tersebut yang menyebabkan tumbuhnya pikiran kritis rekonstruksionisme yang terjadi dalam masyarakat, sehingga dapat dikatan rekonstruksi sebagai tujuan mencari titik kebenaran melalui lembaga pendidikan.

BAB III
KESIMPULAN
Rekonstruksionisme merupakan kelanjutan dari gerakan progresivisme. Gerakan ini lahir didasarkan atas suatu anggapan bahwa kaum progresif hanya memikirkan dan melibatkan diri dengan masalah-masalah masyarakat yang ada sekarang. Selain itu mazhab ini juga berpandangan bahwa pendidikan hendaknya memelopori melakukan pembaharuan kembali atau merekonstruksi kembali masyarakat agar menjadi lebih baik
Pandangan aliran Rekonstruksionisme, memandang bahwa tujuan pendidikan adalah untuk merombak tata susunan kebudayaan lama dan membangun tata hidup kebudayaan yang baru, melalui pembinaan daya intelektual dan spiritual yang sehat akan membina kembali manusia dengan pendidikan yang tepat atas nilai dan norma yang benar demi generasi sekarang dan yang akan datang, sehingga terbentuk dunia baru dalam pengawasan umat manusia.
Aharianto menjelaskan pokok-pokok konsep rekonstruksionisme sebagai berikut:
1.      Pendidikan harus menciptakan tatanan social yang baru sesuai dengan nilai-nilai dan kondisi social yang baru.
2.      Masyarakat baru
3.      Anak, sekolah, dan endidikan dipengaruhi oleh kekuatan social budaya.
4.      Guru meyakinkan murid tentang kebenaran dan memecahkan masalah melalui rekonstruksi social secara demokratis.
5.      Memperbaharui tujuan dan cara-cara yang dipakai pendidikan

Implikasi pemikiran filosofis rekonstruksianisme dalam kurikulum diarahkan kepada penumbuhan kesadaran kritis peserta didik dengan model keaksaraan kritis pada materi yang diajarkan. Selain itu kurikulum ditekankan pada upaya membangun kesadaran polyculture dengan mengapresiasi keragaman budaya, adat istiadat suatu suku tertentu untuk menanamkan nilai-nilai pluralisme kultural.
Terhadap guru, Guru harus membuat para peserta didik menyadari masalah-masalah yang dihadapi umat manusia, membantu mereka merasa mengenali masalah-masalah tersebut sehingga mereka merasa terikat untuk memecahkannya.
Terhadap siswa, siswa adalah generasi muda yang sedang tumbuh menjadi manusia pembangun masyarakat masa depan, dan perlu berlatih keras untuk menjadi insinyur-insinyur social yang diperlukan untuk membangun masyarakat masa depan.

DAFTAR PUSTAKA
Achmadi, Asmoro. (2003). Filsafat umum. Jakarta: PT . Raja Grafindo
Hamdani Ali, MA. (1986). Filsafat Pendidikan.Yogyakarta: Kota Kembang.
Hanafi, Imam. (2008). Paradigma Pembelajaran Rekontruksionisme [online] Tersedia: http://nafieihsan. blogspot. com/2008/05/ paradigma-pembelajaran.html (Diakses tanggal 18-Oktober-2010)
Jalaluddin dan Abdullah. (1997). Filsafat pendididkan,manusia,filsafat dan pendidikan. Jakarta: Gaya media pratama
Sadulloh Uyoh . (1994). Pengantar Ilmu Filsafat Pendidikan. Bandung: PT. Media ipteks
Syaodih Nana sukma dinata. (2006). Pengembangan kurikulum teori dan praktek. Bandung: PT Remaja rosda karya.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar