Senin, 19 Desember 2011

MENULIS DENGAN LANDASAN SASTRA

A.      Teori Menulis
Menulis adalah suatu keterampilan yang dimiliki dengan cara belajar, baik melalui lembaga formal ataupun melalui lingkungan informal seperti keluarga atau les-les tertentu. Pada hakikatnya menulis bukanlah keterampilan yang diwariskan dari leluhur. Terbukti bahwa tidak semua orang memiliki keterampilan menulis. Ini dapat dibuktikan tidak setiap hasil tulisan dapat dipandang sebagai hasil kegiatan seseorang dalam menulis. “Artinya, meskipun seseorang sudah menghasilkan tulisan namun itu masih belum, dipandang sebagai hasil kegiatan menulis.” (Cahyani, 2007:126).
Menurut aksioma yang dikemukakan oleh Alexander (dalam Cahyani, 2007) dalam buku “Practice and Progress.” Mengungkapkan perihal menulis sebagai berikut:
Nothing should be spoken before it has been heard.
Nothing should be read before it has been spoken.
 Nothing should be written before it has been read.”
Jadi, empat keterampilan yang dapat dimiliki oleh seseorang, yakni: berbicara, menyimak, membaca dan menulis. Satu diantaranya adalah menulis. Keempat keterampilan itu saling berhubungan, tidak akan ada yang dapat dibicarakan sebelum itu didengar (disimak), tidak akan ada yang dapat dibaca sebelum itu dibicarakan, tidak aka nada yang dapat ditulis sebelum itu dibaca. Meskipun keterampilan itu saling berhubungan namun masing-masing keterampilan itu memiliki wilayah (taksonomi) yang berbeda. Menulis adalah salah satu dari keempat keterampilan yang dapat dimiliki oleh seseorang. Dalam hal ini Tarigan (dalam Cahyani, 2007:126) menjelaskan, yaitu:
Menulis memiliki kesamaan media bahasa dengan membaca, yakni sama-sama menggunakan bahasa tulis (grafem), namun berbeda dari menyimak dan berbicara, yakni menggunakan bahasa lisan (fonem). Menulis memiliki kesamaan dengan berbicara, yakni sama-sama memproduksi pesan, namun berbeda dari membaca dan menyimak. Pesan dihasilkan dalam menulis, sementara pesan diterima dalam membaca dan menyimak.
Dalam konteks ini dapat disimpulkan bahwa menulis merupakan salah satu keterampilan yang dimiliki oleh seorang individu untuk mengkomunikasikan pesan, gagasan, perasaan dan berbagai ungkapan hati lainnya yang diperoleh melalui proses belajar. Selain berfungsi sebagai alat komunikasi, menulis juga memiliki fungsi-fungsi lain seperti yang diungkapkan Tarigan (dalam Djuanda, 2007:180) sebagai berikut:
1.      Fungsi penataan
Ketika mengarang terjadi penataan terhadap gagasan, pikiran pendapat, imajinasi, dan yang lainnya, serta terhadap penggunaan bahasa untuk mewujudkannya. Oleh karena itu pikiran dan lainnya mempunyai wujud yang tersusun.
2.      Fungsi pengawetan
Mengarang memiliki fungsi untuk mengawetkan pengutaraan sesuatu dalam wujud dokumen tertulis. Dokumen sangat berharga, misalnya untuk mengungkapkan kehidupan pada zaman dahulu.
3.      Fungsi penciptaan
Dengan mengarang kita menciptakan sesuatu yang mewujudkan sesuatu yang baru. Karangan sastra mewujudkan sesuatu yang baru. Karangan sastra menunjukan fungsi demikian. Begitu pula karangan filsafat dan keilmuan ada yang menunjukan fungsi penciptaan.
4.      Fungsi penciptaan
Penyampaian itu terjadi bukan saja kepada orang yang berdekatan tempatnya melainkan juga kepada orang yang berjauhan.

Selain itu, banyak juga keuntungan yang dapat diperoleh dari menulis, seperti yang diungkapkan oleh Akhdiah, dkk  (dalam Djuanda, 2007:182) yang mengungkapkan delapan kegunaan menulis sebagai berikut:
1.     Penulis dapat mengenali kemampuan dan potensi dirinya, dengan menulis penulis dapat mengetahui sampai dimana pengetahuannya tentang suatu topik. Untuk mengembangkan topik itu penulis harus berpikir menggali pengetahuan dan pengalamannya.
2.      Penulis dapat terlatih dalam mengembangkan berbagai gagasan. Dengan menulis penulis terpaksa bernalar, menghubungkan, serta membanding-bandingkan fakta untuk mengembangkan berbagai gagasannya.
3.     Penulis dapat lebih banyak menyerap, mencari serta menguasai informasi sehubungan dengan topik yang ditulis. Kegiatan menulis dapat memperluas wawasan penulisan secara teoritis mengenai fakta-fakta yang berhubungan.
4.    Penulis dapat terlatih dalam mengorganisasikan gagasan secara sistematis serta mengungkapkannya secara tersurat. Dengan demikian, penulis dapat menjelaskan permasalahannya  yang semula masih samar.
5.      Penulis akan dapat meninjau serta menilai gagasannya sendiri secara objektif.
6.    Dengan menulis sesuatu diatas kertas, penulis akan lebih mudah memecahkan permasalahannya, yaitu dengan menganalisasinya secara tersurat dalam konteks yang lebih konkret.
7.  Dengan menulis, penulis terdorong untuk terus belajar secara aktif. Penulis menjadi penemu sekaligus pemecah masalah, bukan sekedar menjadi penyadap informasi dari orang lain.
8.      Dengan kegiatan menulis yang terencanakan membiasakan penulis berfikir serta berbahasa secara tertib dan benar.

Jika ditarik benang merah, maka keterampilan menulis itu merupakan keterampilan yang sangat berguna sekali dalam mengkomukasikan gagasan, begitu pula dengan penyampaian informasi-informasi penting layaknya ilmu pengetahuan seperti yang dituturkan oleh (Djuanda, 2007:183) bahwa “Menulis sangat berguna sekali dalam mengembangkan ilmu pengetahuan, sebab dengan menulis gagasan, pikiran, dan perasaan terpaparkan dan terorganisasi serta terencanakan dengan tertib dan teratur”.
B.       Macam-Macam Karya Sastra
Dalam khasanah sastra Indonesia dikenal dua macam kelompok karya sastra menurut temanya, yakni karya sastra lama dan karya sastra baru. Hal itu juga berlaku bagi karya sastra bentuk prosa. Jadi, ada karya sastra prosa lama dan karya sastra prosa baru.  
1.      Prosa Lama
Prosa lama adalah karya sastra daerah yang belum mendapat pengaruh dari sastra atau kebudayaan barat. Dalam hubungannya dengan kesusastraan Indonesia maka objek pembicaraan sastra lama ialah sastra prosa daerah Melayu yang mendapat pengaruh barat. Hal ini disebabkan oleh hubungannya yang sangat erat dengan sastra Indonesia.  Karya sastra prosa lama yang mula-mula timbul disampaikan secara lisan. Disebabkan karena belum dikenalnya bentuk tulisan. Dikenal bentuk tulisan setelah agama dan kebudayaan Islam masuk ke Indonesia, masyarakat Melayu mengenal tulisan. Sejak itulah sastra tulisan mulai dikenal dan sejak itu pulalah babak-babak sastra pertama dalam rentetan sejarah sastra Indonesia mulai ada. Bentuk-bentuk sastra prosa lama adalah:
a.  Mite adalah dongeng yang banyak mengandung unsur-unsur ajaib dan ditokohi oleh dewa, roh halus, atau peri. Contoh Nyi Roro Kidul.
b.   Legenda adalah dongeng yang dihubungkan dengan terjadinya suatu tempat. Contoh: Sangkuriang, SI Malin Kundang
c.   Fabel adalah dongeng yang pelaku utamanya adalah binatang. Contoh: Kancil 
d.  Hikayat adalah suatu bentuk prosa lama yang ceritanya berisi kehidupan raja-raja dan sekitarnya serta kehidupan para dewa. Contoh: Hikayat Hang Tuah.
e.  Dongeng adalah suatu cerita yang bersifat khayal. Contoh: Cerita Pak Belalang.
f. Cerita berbingkai adalah cerita yang di dalamnya terdapat cerita lagi yang dituturkan oleh pelaku-pelakunya. Contoh: Seribu Satu Malam
2.      Prosa Baru
Prosa baru adalah karangan prosa yang timbul setelah mendapat pengaruh sastra atau budaya Barat. Prosa baru timbul sejak pengaruh Pers masuk ke Indonesia yakni sekitar permulaan abad ke-20. Contoh: Nyai Dasima karangan G. Fransis, Siti Mariah karangan H. Moekti.
Berdasarkan isi atau sifatnya prosa baru dapat digolongkan menjadi:
a.  Roman adalah cerita yang mengisahkan pelaku utama dari kecil sampai mati, mengungkap adat/aspek kehidupan suatu masyarakat secara mendetail/menyeluruh, alur bercabang-cabang, banyak digresi (pelanturan). Roman terbentuk dari pengembangan atas seluruh segi kehidupan pelaku dalam cerita tersebut. Contoh: karangan Sutan Takdir Alisjahbana: Kalah dan Manang, Grota Azzura, Layar Terkembang, dan Dian yang Tak Kunjung Padam.
b.   Riwayat adalah suatu karangan prosa yang berisi pengalaman-pengalaman hidup pengarang sendiri (otobiografi) atau bisa juga pengalaman hidup orang sejak kecil hingga dewasa atau bahkan sampai meninggal dunia. Contoh: Soeharto Anak Desa atau Prof. Dr. B.I Habibie atau  Ki hajar Dewantara.
c.       Otobiografi adalah karya yang berisi daftar riwayat diri sendiri.
d.   Antologi adalah buku yang berisi kumpulan karya terplih beberapa orang. Contoh Laut Biru Langit Biru karya Ayip Rosyidi
e.  Kisah adalah riwayat perjalanan seseorang yang berarti cerita rentetan kejadian kemudian mendapat perluasan makna sehingga dapat juga berarti cerita. Contoh: Melawat ke Jabar – Adinegoro, Catatan di Sumatera – M. Rajab.
f.       Cerpen adalah suatu karangan prosa yang berisi sebuah peristiwa kehidupan manusia, pelaku, tokoh dalam cerita tersebut. Contoh: Tamasya dengan Perahu Bugis karangan Usman. Corat-coret di Bawah Tanah karangan Idrus.
g.    Novel adalah suatu karangan prosa yang bersifat cerita yang menceritakan suatu kejadian yang luar biasa dan kehidupan orang-orang. Contoh: Roromendut karangan YB. Mangunwijaya.
h.    Kritik adalah karya yang menguraikan pertimbangan baik-buruk  suatu hasil karya dengan memberi alasan-alasan tentang isi dan bentuk dengan kriteria tertentu yang sifatnya objektif dan menghakimi.
i.    Resensi adalah pembicaraan/pertimbangan/ulasan suatu karya (buku, film, drama, dll.). Isinya bersifat memaparkan agar pembaca mengetahui karya tersebut dari berbagai aspek seperti tema, alur, perwatakan, dialog, dll, sering juga disertai dengan penilaian dan saran tentang perlu tidaknya karya tersebut dibaca atau dinikmati.
j.    Esei adalah ulasan/kupasan suatu masalah secara sepintas lalu berdasarkan pandangan pribadi penulisnya. Isinya bisa berupa hikmah hidup, tanggapan, renungan, ataupun komentar tentang budaya, seni, fenomena sosial, politik, pementasan drama, film, dll. menurut selera pribadi penulis sehingga bersifat sangat subjektif  atau sangat pribadi.
3.      Puisi
Puisi adalah bentuk karangan yang terkikat oleh rima, ritma, ataupun jumlah baris serta ditandai oleh bahasa yang padat. Unsur-unsur intrinsik puisi adalah
a.       Tema adalah tentang apa puisi itu berbicara
b.      Amanat adalah apa yang dinasihatkan kepada pembaca
c.       Rima adalah persamaan-persamaan bunyi
d.      Ritma adalah perhentian-perhentian/tekanan-tekanan yang teratur
e.   Metrum/irama adalah turun naik lagu secara beraturan yang dibentuk oleh persamaan jumlah kata/suku tiap baris
f.       Majas/gaya bahasa adalah permainan bahasa untuk efek estetis maupun maksimalisasi ekspresi
g.      Kesan adalah perasaan yang diungkapkan lewat puisi (sedih, haru, mencekam, berapi-api, dll.)
h.      Diksi adalah pilihan kata/ungkapan
i.        Tipografi adalah perwajahan/bentuk puisi
Menurut zamannya, puisi dibedakan atas puisi lama dan puisi baru.
a.      Puisi lama
Ciri puisi lama:
1)      Merupakan puisi rakyat yang tak dikenal nama pengarangnya
2)      Disampaikan lewat mulut ke mulut, jadi merupakan sastra lisan
3)      Sangat terikat oleh aturan-aturan seperti jumlah baris tiap bait, jumlah suku kata maupun rima.
Yang termasuk puisi lama adalah:
1)      Mantra adalah ucapan-ucapan yangd ianggap memiliki kekuatan gaib
2)      Pantun adalah puisi yang bercirikan bersajak a-b-a-b, tiap bait 4 baris, tiap baris terdiri dari 8-12 suku kata, 2 baris awal sebagai sampiran,  2 baris berikutnya sebagai isi. Pembagian pantun menurut isinya terdiri dari pantun anak, muda-mudi, agama/nasihat, teka-teki, jenaka.
3)      Karmina adalah pantun kilat seperti pantun tetapi pendek.
4)      Seloka adalah pantun berkait.
5)      Gurindam adalah puisi yang berdirikan tiap bait 2 baris, bersajak a-a-a-a, berisi nasihat.
6)      Syair adalah puisi yang bersumber dari Arab dengan ciri tiap bait 4 baris, bersajak a-a-a-a, berisi nasihat atau cerita.
7)      Talibun adalah pantun genap yang tiap bait terdiri dari 6, 8, ataupun 10 baris.
b. Puisi baru
Puisi baru bentuknya lebih bebas daripada puisi lama baik dalam segi jumlah baris, suku kata, maupun rima. Menurut isinya, puisi dibedakan atas
1)      Balada adalah puisi berisi kisah/cerita.
2)      Himne adalah puisi pujaan untuk Tuhan, tanah air, atau pahlawan.
3)      Ode adalah puisi sanjungan untuk orang yang berjasa
4)       Epigram adalah puisi yang berisi tuntunan/ajaran hidup
5)      Romance adalah puisi yang berisi luapan perasaan cinta kasih
6)      Elegi adalah puisi yang berisi ratap tangis/kesedihan
7)      Satire adalah puisi yang berisi sindiran.
C.      Menulis dengan Landasan Sastra
Pada mulanya kita sebagai individu yang pernah mengenyam pendidikan dasar di sekolah dasar mayoritas belum menyadari benar kenapa sewaktu di sekolah dasar guru selalu memberikan teori sastra seperti puisi, dongeng, cerpen dan lain sebagainya. Apalagi jika kita bayangkan apa yang kita pikirkan saat usia kita masih sedini itu, tentu sebagian besar beranggapan bahwa semua itu tidak begitu berarti dan tidak memiliki makna bagi kehidupan yang sesungguhnya di luar sekolah.
Saat guru meminta kita untuk menjelaskan arti dari sebuah puisi, kita pun masih belum menyadari apa maksud dari guru kenapa dia harus meminta kita untuk melakukan hal tersebut. Anak SD memang masih jarang yang berpikiran jauh tentang hal itu, tapi terkadang dapat kita temui walaupun jarang ada anak yang selalu ingin tahu semua hal yang ada pada dirinya maupun yang ada di luar dirinya terutama di lingkungan sekolahnya. Selagi kecil mungkin kita akan mendapatkan jawabannya, tapi mungkin jawaban itu masih belum cukup apabila kita sudah semakin dewasa dan mulai memahami dan semakin ingin mengetahui berbagai hal.
Kini saat kita sudah beranjak dewasa, kita akan semakin menyadari bahwasannya saat kita mengkaji lebih dalam lagi kita akan menemukan jawabannya dan benar-benar menyadari bahwa mempelajari sastra apalagi memparafrasekannya memiliki faedah yang sangat banyak bagi perkembangan keterampilan berbahasa kita.  (Djuanda, 2007:192) mengungkapkan  bahwa “Beberapa penelitian yang berkaitan dengan sastra anak-anak telah dilakukan oleh beberapa ahli. Hasilnya sastra anak-anak dapat mengembangkan kemampuan menulis, berbicara, membaca dan menulis, bahkan berfikir logis”. Kemudian mari kita simak hasil penelitian Culinan (dalam Djuanda, 2007) hasil penelitiannya itu menunjukan bahwa menyimak dan membaca cerita yang bagus dapat dapat membantu meningkatkan perkembangan kosakata, mempertajam kepekaan terhadap bahasa, dan memperluas pemakaian bahasa dalam gaya penulisannya.
Begitu pula halnya dengan dengan hasil penelitian longitudinal yang dilakukan Mills dikelas selama empat tahun, penelitian itu memperlihatkan hasil bahwa anak-anak yang membaca atau menyimak dan kemudian mendiskusikannya sebagai landasan menulis, hasilnya sangat tinggi dibandingkan kelompok kontrol, terutama dalam menulis bebas. Anak-anak belajar bagaimana menulis dari hasil menyimak cerita dan berdiskusi. Dan anak-anak juga meniru cerita yang disimak dan didiskusikannya sebagai model menulis serta meniru isi saat mereka menulis. Huck (dalam Djuanda, 2007:192)
Berdasarkan asumsi-asumsi atau hasil-hasil penelitian para ahli diatas, jelaslah bahwa menulis dengan menggunakan landasan sastra akan memicu perkembangan bahasa anak, selain itu sastra juga bisa dimanfaatkan sebagai pembelajaran menulis khususnya.
Dalam bukunya “Pembelajaran Bahasa di Sekolah Dasar”, (Djuanda, 2007:193) menguraikan beberapa teknik pembelajaran menulis yang dapat memanfaatkan sastra sebagai landasan untuk menulis. Beberapa kegiatan tersebut diantaranya adalah sebagai berikut:
1.      Meneruskan Cerita.
2.      Paraphrase.
3.      Membuat Naskah Drama dari Cerpen.
4.      Membuat Cerita Pendek dari Cerita Pendek.
5.      Mengganti Puisi.
6.      Membuat Puisi dari Cerita.
7.      Meneruskan Puisi.
8.      Mengawali Puisi.
9.      Menulis Surat dari Cerita.
10.  Menulis Cerita Komik dari Simakan Cerita.

Pertama meneruskan cerita. Teknik meneruskan cerita dilaksanakan dalam menulis fiksi. Tugas guru adalah menyediakan teks sastra anak yang tidak selesai untuk dibaca siswa. Siswa harus meneruskan cerita tersebut dengan tema dan alur yang sesuai seperti yang terjadi pada cerita yang telah dibacanya. Atau variasi lain dari kegiatan ini bisa Awali Cerita, yang dikosongkan (dibuat siswa) cerita bagian awal, atau bagian tengah. Contoh sebagai berikut.
Odo Si Anak Buruh Tani
Di sebuah desa terpencil, hiduplah seorang anak kecil baik hati yang bernama Dodo, namun teman-temannya sering memanggilnya dengan sebutan “Odo”. Dia adalah seorang anak buruh tani, kedua orangtuanya sangat miskin sementara itu ia memiliki sodara-sodara yang banyak. Saking miskinnya, kedua orangtua Odo tidak mampu menyekolahkan anak-anaknya termasuk “Odo”. Padahal Odo adalah anak yang rajin, pintar, baik hati dan juga selalu berusaha keras untuk membantu kedua orangtuanya. Sejak kecil dia selalu membantu pekerjaan kedua orangtuanya di sawah. Setiap pagi, ketika ia akan berangkat kesawah dengan orangtuanya dia selalu berpapasan dengan teman-teman seusianya yang akan pergi ke sekolah. Dia selalu terlihat sedih tetapi kesedihannya itu tidak pernah ia tunjukan di depan kedua orangtuannya.
Suatu hari, ketika ia sedang bermain dengan teman-temannya ada seorang anak laki-laki yang sombong, ia adalah anak kepala desa yang kaya raya. Dia berjalan menuju kerumunan dimana Odo sedang bermain dengang teman-temannya. Tiba-tiba, “Hey anak miskin yang tidak sekolah! Jangan main disini, ini tempat main anak-anak sekolahan. Bukan tempat main orang sepertimu!” ucap anak sombong itu. Kemudian Odo berdiri dan menunjukan wajah sedihnya didepan teman-teman yang lainnya. Kemudian ia ….
(lanjutkan!)
Kedua, Paraphrase. Yakni mengubah bentuk puisi kedalam bentuk prosa. Guru mencari beberapa puisi yang cocok untuk anak, lalu guru menbacakan puisi tersebut atau murid memilih sendiri puisi yang disenanginya kemudian dibaca untuk dipahami isinya. Setelah mengadakan Tanya jawab tentang pemahaman isi puisi, siswa diberi tugas untuk menceritakan kembali puisi yang telah dibacanya dalam bentuk prosa.
Ketiga, Membuat Naskah Drama dari Cerpen. Kegiatan ini diawali dengan membaca cerita. Siswa harus membaca cerita pendek atau novel anak-anak baik secara individual maupun kelompok. Setelah dipahami isinya siswa harus menyusun cerita tersebut dalam bentuk dialog untuk dapat dipentaskan. Akan lebih mudah untuk dikerjakan siswa, bila cerita lebih banyak dialognya.
Keempat, Membuat Cerita Pendek dari Cerita Pendek. Kegiatan ini diawali siswa membaca cerita pendek untuk memahami isinya. Siswa mendaftarkan bagian-bagian cerita yang terdiri atas bagian awal, bagian tengah dan bagian akhir. Begitu juga peristiwa yang ada pada cerita dianalisis. Peristiwa apa saja? Bagian mana yang merupakan peristiwa-peristiwa cerita yang diurutkan berdasarkan cerita. Siswa juga menganalisis tokohnya, alurnya, temanya, latar tempat dan waktu. Setelah semua dipahami, siswa harus menyusun cerita yang tema dan penokohanny, latar dan alurnya mirip dengan cerita yang sudah dibacanya, tapi harus menggunakan kata-kata sendiri. Variasi lain dari kegiatan ini bisa dilakukan setelah siswa memahami cerita dan peristiwa, serta unsure-unsur cerita yang dibacanya, siswa menulis cerita lagi tetapi diganti salah satu unsur ceritanya. Misalnya ganti setting, ganti tokoh dari akuan menjadi diaan.
Kelima mengganti puisi. Siswa menulis puisi dari puisi. Kegiatan menulis ini terutama untuk awal mencoba menulis puisi. Siswa membaca puisi anak-anak. Setelah itu siswa harus mengganti puisi tersebut atau mengganti bagian-bagiannya dengan kata-kata sendiri menurut imajinasinya. Setiap siswa wajib mengubah puisi tersebut meskipun puisi sudah dianggap bai. Kegiatan terakhir, siswa membacakan hasil perubahannya di depan kelas.
Keenam Membuat Puisi dari Cerita. Siswa membuat puisi dengan cepat berdasarkan cerita yang dibacanya. Secara berkelompok siswa membaca cerita yang diberikan guru. Siswa secara berkelompok memahami cerita yang dibacanya. Setelah dipahami siswa harus membuat puisi atas dasar cerita yang mereka baca. Kemudian hasilnya dibacakan didepan kelas.
Ketujuh Meneruskan Puisi. Kegiatan ini mirip dengan kegiatan meneruskan cerita. Siswa secara berkelompok membaca puisi yang belum selesai. Berdasarkan pemahaman mereka pada puisi yang telah dibacanya, mereka harus meneruskan puisi yang belum selesai tersebut manjadi puisi yang lengkap. Bagian akhirnya yang harus diteruskan oleh siswa.
Kedelapan Mengawali Puisi. Siswa dapat membuat bait pertama puisi yang belum ada awalnya yang benar dan runtut sesuai dengan puisi bagian akhir yang dibagikan guru. Puisi diberika oleh guru, yaitu fotokopian puisi yang belum ada bagian awalnya. Usahakan judulnya bervariasi. Secara kelompok berpasangan, siswa mengisi puisi bagian awal yang kosong berdasarkan imajinasi mereka. Puisi harus runtut dengan puisi yang sudah ada, baik tema, maupun isinya.
Kesembilan Menulis Surat dari Cerita. Kegiatan ini diawali dengan kegiatan siswa membaca cerita atau novel anak-anak. Misalnya cerita Bawang Merah-Bawang Putih. Siswa secara berkelompok harus memahami cerita dan karakter tokoh yang ada dalam cerita. Setelah selesai membaca dan memahami isi cerita secara individual siswa harus membuat surat yang ditunjukan kepada tokoh yang disenanginya atau tokoh yang dibencinya. Surat dibacakan di depan kelas sebagai langkah publikasi.
Terakhir Menulis Cerita Komik dari Simakan Cerita. Kegiatan ini diawali dari siswa menyimak cerita yang dibacakan guru. Siswa harus memperhatikan betul-betul apa yang diceritakan guru terkait dengan alur, tokoh, maupun percakapan yang dibacakan guru. Setelah itu, siswa dibagi lembaran tugas berupa cerita bergambar yang harus diisi bagian dialog dalam gambar tersebut.
D.      Upaya Meningkatkan Menulis dengan Landasan Sastra Di SD Kelas Tinggi
Di kelas tinggi, pembelajaran menulis sastra  dapat berupa kegiatan mendaftar nama-nama tokoh serta sifat-sifatnya, mendaftar latar dan peristiwa, memberikan komentar mengenai tokoh dan perilakunya, menuliskan pokok pikiran, meringkas dengan kalimat sederhana. Selain itu, dengan membaca sastra anak mampu menulis puisi berdasarkan karya sastra yang telah dibacanya. Bahkan untuk kelas 4, siswa sudah dituntut dapat merumuskan tema dan menyusun kerangka cerita. Sedangkan untuk kelas 5 dan 6, siswa sudah dituntut dapat membuat dongeng dan cerita pendek, mengubah bentuk prosa ke dalam puisi, menulis puisi dengan landasan sastra.
Adapun upaya yang dapat dilakukan dalam meningkatkan pembelajaran menulis dengan landasan sastra di SD, di antaranya:
1.      Memberikan nilai kesenangan bagi anak dari sastra yang didengarnya, sehingga dapat meningkatkan kemampuan menulis anak.
2.      Meningkatkan pemahaman anak tentang sastra.
3.   Pembelajaran menulis di kelas tinggi juga sangat tepat bila diintegrasikan dengan diskusi yang akan melatih dalam mengembangkan pikiran dan mengungkapkan pikirannya dalam bentuk lisan atau tulisan.
4.    Guru harus mampu menyampaikan materi pembelajaran sastra dengan cara yang menarik sehingga anak tidak cepat merasa bosan. Tidak hanya menarik tetapi pembelajaran yang diberikan pun harus bermakna, sehingga ilmu yang disampaikan oleh guru dapat bermanfaat bagi siswa. Salah satu caranya yaitu bisa memanfaatkan permainan dalam kegiatan pembelajaran.
5.  Guru hendaknya memiliki kemampuan bersastra baik secara reseptif maupun produktif sastra, mengetahui dan memahami bentuk dan teori sastra, mengetahui dan menguasai strategi pengajaran sastra, serta menguasai cara-cara mengevaluasi hasil belajar siswa.

 
DAFTAR PUSTAKA

Cahyani. 2007. Kemampuan Berbahasa Indonesia Di Sekolah Dasar. Bandung. UPI Press.

Djuanda, Dadan. 2007. Pembelajaran Bahasa Di Sekolah Dasar. Bandung: Pustaka Latifah.

Rofi’uddin, Ahmad dan Darmiyati Zuhdi. 1999. Pendidikan Bahasa dan  Sastra Indonesia Di Kelas   Tinggi. Jakarta: Depdiknas.
Sulaeman. 2009. Dinamika Perkembangan Suatu Bahasa. [online]. Tersedia: http://jenahudin.wordpress.com/2009/12/21/dinamika-perkembangan-suatu-bahasa/ [7 September 2011]
Supriyadi. 2006. Pembelajaran Sastra yang Apresiatif dan Integratif Di Sekolah Dasar. Jakarta: Depdiknas.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar